Thursday, June 26, 2014

Selamat Pagi, Malam

Kemarin sore, akhirnya gue nonton juga film Selamat Pagi, Malam. Dan partner nonton gue yang paling setia siapa lagi kalo bukan Widya, Adek gue. Nonton di Blitzmegaplex seperti biasa, janjian sepulang gue kerja.

Overall, gue suka sama film ini. Kalo yang udah baca review atau sinopsisnya, pasti udah tahu kalo di film ini ada 3 cerita yang berbeda dengan latar yang sama, yaitu tentang Jakarta. Pada dasarnya, gue emang selalu suka film dengan beberapa cerita berbeda tapi kayak nyambung. Di sini, gue bukan mau ngereview. Gue nggak jago ngereview, kalo mau reviewan mah coba googling aja lah ya. Nyahahaha.

Film ini diluncurkan bertepatan dengan euphoria ulang tahun Jakarta yang ke 487 dan bertepatan dengan gue yang lagi kangen berat sama Jakarta. Makanya gue penasaran banget pengen nonton. Apalagi tiap nonton promo film ini, selalu diulang-ulang bahwa film ini bercerita tentang Jakarta di malam hari. Tentang ironisnya hidup di Jakarta. Tentang benci tapi cintanya hidup di Jakarta. 

Ketika gue nonton kemarin, gue diem mengamati every single detail of it. Merinding gue nontonnya, sambil mikir "What! I've ever been lived in that city and now i miss that place! Gosh!". Selama nonton, asli deh gue makin kangen Jakarta. Apalagi Jakarta yang disorot di film ini adalah sekitaran Bunderan HI, Grand Indonesia, Plaza Indonesia, Kebon Kacang, Gajah Mada. Aiiiih, itu mah daerah kekuasaan gue dulu. Tinggal ngesot dan sering banget kesana. Walopun Gajah Mada yang dimaksud di film itu adalah Gajah Mada after midnight ketika kios obat kuat udah pada buka lapak di pinggir jalan. Gajah Mada versi gue cuma sampe GM Plaza sampai jam 20.30an. Dulu gue sering banget kesana untuk belanja bulanan di Hypermartnya. Sering diledekin temen kampus karena gue ke mall ini, katanya alay lah, norak lah. Tapi Hypermart yang transportnya paling gampang dan deket cuma kesini, cuma naik angkot 2500. #HEMATBEB Kalo GI sering untuk me time after office hours. Ke PI biasanya kalo lagi pengen lunch keluar. Kebon kacang biasanya gue lewatin kalo mau ke BPPT naik bajaj atau sepulangnya dari GI biasanya sopir taksinya suka potong jalan lewat sini. Kalo Bunderan HI.... *sigh* tiap gue lewatin Bunderan HI, entah kenapa gue selalu merhatiin patung Selamat Datang atau air mancurnya. Serius, i always used to do that! And while i was staring at, i always thought "Sampai kapan ya gue di sini? Gue pengen balik ke Bandung....". Selaluuuu kayak gitu. Hahahaha. 

Itu kalo dari tempat-tempatnya. Kalo dari ceritanya.. Absolutely agree! Tentang perselingkuhan suami dengan PSK (kisah Ci Surya), ooooh gue tau banget itu! Bahkan gue pernah ada di lingkaran pertemanan seperti itu. Waktu baru tahu, gue syok banget. Rasanya janji pernikahan kayak nggak ada artinya untuk mereka. Kasian istrinya. Lama-lama gue terbiasa. Tentang orang yang ingin menaikan status sosialnya (Kisah Indri), pengen dibilang berkelas walopun harus norak. Adaaaa, gue juga tahu dan pernah liat. Masih dari kisahnya Indri, tentang sex before married bahkan sama temen yang baru dikenal, juga tahuuu. Terus tentang seseorang yang ingin diterima di kehidupan Jakarta yang glamor (kisah Naomi) sampai melakukan hal-hal yang dia gak suka dan gak nyaman tapi demi diterima lingkaran pertemanan, juga adaaaa. Belum lagi tentang penggunaan smartphone dan media sosial masa kini, beuh.. kesindir abis! Mending cepetan nonton filmnya deh, sebelum terkalahkan oleh film-film dari luar negeri. Ayo dong, nonton film Indonesia yang berkualitas kayak Selamat Pagi, Malam. Asli keren.

Last but not least... Jakarta, tunggu aku ya! Aku pasti kembali...... untuk main dan ketemu temen-temen aja sih.. Nyahahaha!


Monday, June 23, 2014

Belitong Trip Day 1: Tanjung Tinggi Beach and Lunch

Setelah menempuh perjalanan sekitar 1,5 jam kami kembali lagi ke Belitong Barat menuju destinasi selanjutnya yaitu Pantai Tanjung Tinggi atau lebih dikenal dengan Pantai Laskar Pelangi. Di pantai ini juga kami baru makan siang menuju sore. Hehehe.


Sesampainya di Tanjung Tinggi, kami diantar menuju restoran D 02 untuk makan siang. Desain restorannya masih sangat sederhana, dilengkapi dengan banyak kursi plastik yang memanjang. Sepertinya restoran ini sering dipakai untuk makan para rombongan yang datang menggunakan bus. Menu yang ditawarkan aneka hidangan laut semacam ikan, cumi, udang yang kesemuanya dimasak dengan aneka bumbu. Silakan dipilih mau dibakar, dibumbu apa, digoreng, dll. Jangan lupa cicipi masakan khas Belitong kepala ikan yang dimasak dengan bumbu gangan. Masakan ini dijual perkilo sesuai dengan besarnya kepala ikan yang kita pilih. Err.. Gue lupa banget apa nama ikannya. -__-

Kami pesan ikan gangan, cumi bakar, plecing kangkung, dan kelapa muda. Semuanya baru dimasak setelah kami memilih ikan dan cuminya, sehingga memakan waktu cukup lama. Sambil menunggu masakan matang, kami tinggal ke pantai dulu untuk..... foto-foto. Oke, di sini kami foto buanyaaaak banget. Sebaiknya skip dulu ya fotonya. Nyahahaha!

Masakan pun matang. Kami takjub liat porsinya yang banyak banget. Oiya, dari masakan yang kami pilih tadi, oleh pemilik restoran sebagian sudah disisihkan untuk driver. Sehingga masakan yang disajikan cuma untuk kami berdua dan tetep masih banyak ajaaaa.


Rasa ikan gangannya enaaaak, seger banget kuahnya. Rasanya asem pedas seger. Walaupun terbuat dari kepala ikan, tetep dagingnya masih banyak kok. Dagingnya lembut banget ditambah sensasi nikmat ngebedah kepala ikan, sluuurp! Asli enak banget. Cumi bakarnya juga enak banget. Cuminya empuk masih fresh. Bumbunya pas, gak kemanisan. Enaaaak. Kangkungnya juga enak, bumbunya pas dan gak terlalu pedas. Alhamdulillaah enak semua dan yang tadinya udah underestimate gak bakal habis ternyata tandas sampe bersih sih sih. Huahahahaha laper apa doyan?

Setelah kenyang kami kembali pantai untuk foto-foto lagi. Yaaaay!





 Waktu kami di sini, cuacanya mendung. Jadi langitnya nggak biru bright, bahkan nggak silau sama sekali. Menurut Mas Agus, waktu yang tepat dateng ke Belitong adalah sekitar bulan April atau Mei. Pada bulan-bulan ini, pantai lagi bagus-bagusnya. Tenang dan berwarna turqois seperti kolam renang.














Sengaja ke Tanjung Tinggi sore hari supaya bisa lihat sunset. Sayangnya karena mendung, sunset yang kami dapat gak bagus. Tetep Alhamdulilaah dong, masih dikasih rejeki untuk liburan di Belitong. :)




Airnya jernih

Selepas sunset, kami beranjak pulang ke hotel. Hari ini super duper capeeeeek, tapi super duper seneng juga. Besok bakal main air seharian untuk island hopping! See you!


Friday, June 20, 2014

Belitong Trip Day 1 : Pantai di Belitong Timur

Jangan dulu berharap pantai dengan batu-batu besar khas Belitong seperti di film Laskar Pelangi. Pantai-pantai tersebut adanya di Belitong Barat. Sedangkan pantai-pantai di Belitong Timur seperti pantai pada umumnya, tanpa bebatuan besar. Kami mampir sebentar sebelum kembali ke Belitong Barat, tempat kami menginap.

Here we go!





Gak pengen basah, akhirnya basah juga

Petualangan di Belitong Timur pun usai, saatnya kembali ke Belitong Barat menuju destinasi selanjutnya: Pantai Tanjung Tinggi alias Pantai Laskar Pelangi! Selama perjalanan menuju Belitong Barat, gue akhirnya tidur pules banget. Baru kerasa capeknya early flight. See you on Tanjung Tinggi Beach!


Belitong Trip Day 1 : Kuil Dewi Kuan Im


AKHIRNYA NGELANJUTIN POSTINGAN BELITONG!!!!
Masih di Belitong Timur. Setelah dari Museum Kata Andrea Hirata, perjalanan dilanjutkan ke Kuil Dewi Kuan Im. Sebelum sampai di kuil tersebut, Mas Agus, driver kami ngajakin mampir ke rumah dinas Bupati Belitung Timur. Rumahnya ada di atas bukit dengan pemandangan laut Belitong Timur. #OKESIP

foto di seberang rumah, mendung!

Di rumah itu cuma sebentar, cuma numpang foto doang. Lagian udah mendung banget takut keburu hujan sebelum sampai di Kuil Dewi Kuan Im. Dari rumah itu ke Kuil sekitar 20 menit dengan jalanan yang sepi dan sempit.

Daaaan.. Ini dia beberapa foto di Kuil. 


 

Maap-maap ya, fotonya cuma sedikit dan kualitasnya jelek. Waktu di Kuil bener-bener cuma manfaatin kamera handphone dan tongsis (dan waktu ngetik postingan ini baru ngeh kalo folder bluetooth di hp hilang, padahal isinya kiriman foto-foto waktu ke Belitong dari suami). Waktu kami kesana, Kuil ini lagi direnovasi, jadi nggak banyak yang bisa dilihat. Plus udah mulai gerimis. Kuilnya ada di atas, untuk menuju kesana kami harus melewati beberapa anak tangga. Tenang aja, nggak banyak dan nggak curam kok.

Abis dari Kuil, sebelum kembali ke Belitong Barat kami mampir ke salah satu pantai di Belitong Timor, next post ya!


Kejar Setoran: Edge of Tomorrow


Kemarin sore, gue dan Widya nonton lagi. Ebuset nonton lagi, tiap hari? Hihihi. Abis film-film lagi banyak amat yang seru sih. Mana bentaran lagi mau puasa kan, jadi kita ngejar nonton film-film yang belum kita tonton. Bukannya nyiapin bekal ibadah ramadhan gitu yaaa.. Nyahahaha!

Tadinya gue gak niat mau nonton, tapi Widya ngabarin kalo dia mau nonton film ini sama Daffa di PVJ yang jam 17.30. Gue udah lama pengen nonton ini tapi belum punya temen sempet. Awalnya malu, nggak enak sama Daffa. Siapa tahu dia sebel yaaa, mau berduaan adek gue eh Mbaknya malah ngintilin. Tapi kalo nggak bareng Widya gue nonton sama siapa lagi? Mana ni film udah lama tayang, bisa-bisa keburu ditarik dari peredaran. Akhirnya, gue pun ikut mereka nonton. Muahahaha!

Sebagai anggota baru yang terlambat datang, gue bawain mereka Bread Life promo buy 3 get 1. Muahaha! #IRIT Enak banget sih Bread Life, rotinya juara semua. Daaaaann.. Kemarin sore itu PVJ rame banget, apalagi BLITZ-nya udah kayak pasar. Entah karena ada promo Kakao Talk atau orang lain juga kayak kita ngejar nonton sebelum ramadhan tiba? Entahlah.. Yang jelas pusing amat banyak orang.

Fyuuuh, akhirnya nonton juga film ini. Next, tinggal How to Train Your Dragon 2; Selamat Pagi, Malam; dan Cahaya dari Timur: Beta Maluku. Minggu depan berarti beredar lagi. Hihihi.

Thursday, June 19, 2014

Ketika Tuhan Jatuh Cinta

Akhir-akhir ini, hampir tiap pulang kerja gue suka mampir-mampir main dulu. Entah cuma ke supermarket atau janjian makan n ngemall sama temen. Kemarin, gue janjian sama adek gue, Widya. Kami mau nonton film Ketika Tuhan jatuh Cinta. Karena bioskop yang nayangin film ini tinggal Empire XXI di BIP dan Jatos, akhirnya kita pilih yang di BIP karena kalo ke Jatos terlalu jauh. Kami janjian sepulang gue kerja dan setelah Widya selesai UAS, rencananya mau nonton yang jam 19.00.

Udah lamaaaa banget gue ga ke BIP, ada kali hampir 2 tahun. FYI, konon BIP ini adalah mall tertua di Bandung. Interiornya yaaa gitu deh, lawas. Hihihi. Ternyata gak terlalu banyak yang berubah, masih begitu-begitu aja dari dulu. Palingan ada beberapa tenant yang ganti atau nambah. Nah, yang paling hits adalah bioskopnya. Dulu, sebelum bioskop menjamur kayaknya hampir semua orang nonton ke sini. Sekarang bioskopnya sepi, mungkin karena weekday juga. Dulu bioskopnya masih lewel 21, sekarang jadi XXI. Ekspektasi gue tinggi dong yaaaa, kalo udah XXI biasanya enak dan lebih nyaman. Pas masuk studionya, film belum mulai dan lampu masih nyala terang. Astagaaaa, gue syok. Ekspektasi gue salah total. Kursi bioskopnya udah jelek, kursi yang harusnya warna merah jadi menuju orens karena belel, trus bau. Bahkan kursinya Widya, sandaran lengannya udah miring. Gustiiii, ganti nama kok gak ganti kursi? Haduuu, kalo ga karena filmnya gue ogah banget nonton di situ. Tapi ya sutralah yaa, nikmatin aja filmnya.


Dari segi cerita sih masuk akal ya, karena diangkat dari kisah nyata. Tapi namanya juga diangkat dari novel, pasti ada bagian-bagian yang dipotong dan walaupun dipotong berusaha tetep nyambung dan penonton ngerti. Gue udah curiga kok udah hampir 2 jam belum ada titik terang, curiga ada sekuel 2. Ternyata benar! Akan ada Ketika Tuhan Jatuh Cinta 2. Nggak heran sih, pasti di novel juga panjang ceritanya. So far gue suka sama cerita film ini. Cuman, ada beberapa hal yang gereget pengen gue komentarin. Misalnya, Fikri (Reza Rahadian) kan alat transportasi utamanya pake motor. Naik motor kemanapun, dia nggak pernah pake jaket. Untung helm masih dipake. Yang paling absurd, waktu dia pulang ke rumah ortunya di Garut pake motor. Selain gak pake jaket dia juga nggak pake helm. Padahal dia dari Bandung. Canggih. Buat sebagian orang mungkin cuek ya, tapi buat yang tahu real lifenya bikers, film tersebut akan lebih natural kalo Fikri pake jaket dan pake helm. Nyahahaha, cetek banget kan komentar gue. Lalu, apakah gue akan nonton KTJC 2? Yes, absolutely! Hihihi.

BTW, sebelum nonton kita kan mau makan dulu. Karena ceritanya pengen hemat, Widya ngajakin gue makan di Bakso Belakang BIP yang sangat heiitss. Gue udah tahu bakso ini dari jaman SMA, tapi belum pernah nyoba. Kata temen-temen gue, bakso ini enak banget. Tempatnya selalu penuh bahkan kadang-kadang gak kebagian tempat. Kalo kata Widya cuma enak aja, lumayan. Ya udah akhirnya gue nyobain baso itu. Karena udah sore, mienya udah habis. Tinggal bakso dan dagingnya aja. Kita emang ga doyan mie di tukang bakso, ya udah kita pesen bakso dan dagingnya aja. Pertama gue cicipin kuahnya sebelum dicampur sambal, dkk. Menurut gue kuahnya keasinan dan rasanya biasanya aja. Trus gue cicipin baksonya, biasa aja juga. Bener kata Widya, menurut kita rasanya lumayan. Belum nyampe tahap enak banget kaya kata temen-temen gue. Walopun kemarin udah hampir malem, bakso itu emang masih penuh aja. Tempatnya juga padahal gak nyaman, ga ada mejanya. Waktu kita udah selesai makan, gue ngeliat Abangnya lagi nyiapin bumbu. Jadi, saking penuhnya si Abang udah nyiapin bumbu di mangkok yang dijejerin banyak banget. Kalo ada yang beli tinggal disiram bakso dan kuah aja, praktis. Waktu gue pesen juga gitu, makanya gue ga liat lagi gimana cara si Abang ngebumbuin. Ternyataaaa, bumbu yang dituangin ke mangkok cuma R*yco, S*sa yang dituangin banyak banget, dan sedikit merica. What? Bahkan dia ga pake ulekan bawang putih atau minyak apa gitu ya? Errr.. pantesan rasa kuahnya gurih banget gitu. Kita syok, kata Widya untung gue udah selesai UAS. Nyahahahaha... Cukup tahu dan cukup sekali deh ngerasain kehitsan bakso BIP ini. Maaf yaaa...

selfie sebelum masuk studio
Kemarin gue ngemall pake seragam kantor. Selagi udah di luar jam kerja, gue nggak pernah malu pakai seragam ini. Malah gue sering banget ngemall after hours pake seragam. Tapi ada lho temen gue yang malu kalo ngemall pakai seragam ini, katanya nggak tahu harus nutupin muka atau nutupin seragam. Gue masih ga nangkep apa yang bikin dia malu, toh kita pakai baju dan nggak membuat kesalahan. Well, pilihan kenyamanan orang emang beda-beda. Tergantung gimana kita menyikapinya. :)

Ngomongin Film Indonesia

Sejak film Ketika Tuhan Jatuh Cinta tayang di bioskop (5 Juni 2014), gue penasaran banget pengen nonton. Penasaran karena film ini diangkat dari kisah nyata yang ditulis menjadi novel best seller. Gue belum pernah baca novelnya, penasaran nonton filmnya dulu. Apalagi pemeran utamanya Reza Rahadian, menurut gue film-film yang dibintangi Reza Rahadian biasanya bagus. 

Kalo nonton film Indonesia, biasanya gue paling cocok sama suami atau Widya, adek gue. Di lingkaran pertemanan gue, masih jarang temen-temen gue yang excited nonton film Indonesia. Mostly berpikiran paling sebentar lagi tayang di TV, mendingan nonton di TV aja. Intinya sih masih banyak yang underestimate dengan film Indonesia. Pun temen-temen adek gue. Waktu tau adek gue mau nonton film ini, temen-temennya bahkan gak tahu ada film Indonesia yang berjudul Ketika Tuhan Jatuh Cinta bahkan yang nyinyir juga ada. Ckck.

Waktu film ini baru tayang, Widya masih UAS, jadi gue harus nunggu sampai UAS dia selesai, which is kemarin. Ealaaah, ternyata bioskop yang masih nayangin film ini tinggal Empire XXI di Bandung Indah Plaza (BIP) dan Jatinangor Town Square (Jatos). Padahal niatnya mau nonton di Blitz aja seperti biasa. Bahkan sampai gue bikin postingan ini, gue cek film ini udah gak tayang sama sekali di Bandung. Gak tahu ya kalo di kota lain, gue gak ngecek. Berarti film ini cuma tayang selama 2 minggu saja. :(

Ternyata yang underestimate film Indonesia bukan cuma temen-temen gue dan adek gue, tapi industri bioskopnya juga ya? Di beberapa bioskop, film luar negeri ditayangkan di 2-3 studio sekaligus. Jangka waktu tayangnya juga lama banget, bisa sampai sebulan lebih. Hmm, gue ga ngerti juga sih apakah ada peraturan yang membahas tentang jumlah studio yang menayangkan suatu film di suatu bioskop. Just IMHO, it's all about profit then. Yaaa mungkin ngapain juga mereka nayangin film yang "kurang diminati", lebih baik meraup keuntungan dari film yang banyak dicari konsumen. Cuma sayang aja kan, hal keuntungan kayak gini yang ngancurin industri film Indonesia sendiri. Contohnya kayak kemarin, kita masih nyari lho pengen nonton film tersebut, tapi karena tayang terlalu sebentar beberapa konsumen end up dengan gak nonton kan? Sayang banget.

Anywaaaaay, ini cuma random thought gue aja sih. No offense untuk pihak manapun. :) Semoga industri film Indonesia makin berkualitas supaya nggak ada lagi yang underestimate sama film Indonesia. :D

Wednesday, June 18, 2014

Galau Skin Care

Akhir-akhir ini lagi sering browsing tentang skin care. Dulu sempet pake perawatan dari dokter kulit di Tebet, tapi semenjak gue pindah ke Bandung dan semua obat udah abis dan dokternya ga buka cabang di Bandung, gue pake skin care yang mudah dibeli di supermarket atau di mall. Biar gak ribet aja sih maksudnya, dan berusaha supaya lebih hemat. Hehehe..

Tipe kulit gue sensitif dan berminyak. Gampang banget muncul jerawat dan kusam. Waktu ke dokter sih jadi bersih cling gitu. BTW, gue emang ga mau putih karena emang ga ada keturunan berkulit putih. Tapi gue mau bersih dan cling. Setelah lepas dari perawatan dokter, lama kelamaan kulit gue kembali seperti dulu.. Kusam dan jerawatan. :(

So far, skin care yang lagi gue pake sekarang (ditulis berdasarkan urutan pemakaian):
  • Hada Labo Gokujyun Ultimate Moisturizing Cleansing Oil, buat ngebersihin make up.
  • Hadalabo Shirojyun Ultimate Whitening Face Wash
  • SK II Facial Clear Lotion
  • SK II Facial Treatment Essence
  • Hada Labo Gokujyun Ultimate Moisturizing Milk
  • The Face Shop Natural Sun AQ Body & Family Mild Sun Milk SPF40 PA+++
  • Erhalogy ESME Twin Silk Compact Powder
Pakai SK II baru sekitar 1 bulan, belum ada perubahan yang berarti jadi sebening kristal (yakali), tapi kerasa banget kalo bangun tidur kulit rasanya lebih moist. Udah gitu doang rasanya, kalo di gue kayaknya ga terlalu berefek bikin wajah jadi cling. Soalnya ini masih aja jerawatan dan kusam. Tapi SK II bakal tetep dipake kok. Haduuu.. galau banget selain ke dokter skin care apa ya yang cocok di kulit gue... -_-"


Tuesday, June 17, 2014

Kangen Jakarta

Eeeaaa.. Tiga bulan pindah ke Bandung akhirnya muncul juga postingan ini. My love-hate relationship with Jakarta, hihi. Sepengen-pengennya gue hijrah dari Jakarta, ternyata Jakarta bisa bikin gue kangen juga. Saat ini kangennya udah sampai tahap kangen akut, kangen banget... Padahal deket yaaa, cuma 3 jam doang udah nyampe. Tapi waktunya Cyin, susah bener ah ngepasinnya. :(

Kangen chit-chat sama Sinders...
Kangen jalan-jalan dan gosipan sama Ami, Rani, Mitha, Nina, Vpey.. Part of The Chosen 12 yang paling sering hang out bareng di Jakarta...
Kangen ke Grand Indonesia pulang kerja, entah cuma untuk makan, ngebioskop, atau hunting novel di Gramedia...
Kangen Mall Taman Anggrek...
Kangen Central Park...
Kangen makan di Warung Pak Hadi...
Kangen Marugame Udon...
Kangen Fish & Co...
Kangen Manhattan Fish Market...
Kangen Loobie Lobster...
Kangen Stasiun Gambir...
Kangen meet up sama Afi di Gandaria City...
Kangen me time geje di kosan (lah ternyata bisa kangen sama ini juga)....
Kangen lunch time di kantor lama...
Aaaah, pokoknya kangen semuanya.. *sigh*

Overall, gue cuma kangen sama temen-temen, tempat makan, dan tempat-tempat yang sering banget gue kunjungin. Nyahahaha.. Kalo kerjaan... Errr.. Kangen gak yaaaa.. ;P


Monday, June 16, 2014

Topik Sensitif

Barusan sehabis posting tentang Makan Siang, gue masih blogwalking santai *mentang-mentang lagi gak ada boss*, lalu ada kolega dulu di Jakarta. Beda bagian, gak terlalu kenal juga. Dia lagi ada urusan dinas ke Bandung, gue gak tahu kapan dia dateng, yang jelas pas ketemu gue dia lagi pamitan ke kita. Lalu kita salaman. Sambil salaman.....

Him: Eh, siapa ya namanya? (Gue agak takjub dia inget gue)
Gue: Tiari Pak, dulu di tempatnya Ibu Mei (sambil senyum manis)
Him: gimana, enak di sini?
Gue: enak, kan deket rumah.
Him: suami dimana? di Bandung?
Gue: bukan, di Palu, Sulawesi.
Him: *mikir* Suaminya di Palu pengusaha?
Gue: bukan, PNS juga.
Him: saran saya, kalo sama-sama PNS bersatu lah. Kalo nggak kamu yang kesana, Suami yang kesini.
Gue: Iya, mudah-mudahan Suami yang ke Bandung juga. (perasaan gue mulai nggak enak kalo udah menjurus ke topik ini)
Him: *sambil ngeloyor pergi* Iya lah, bagusnya bersatu. laki-laki itu untuk kesehatan maksimal 3 bulan aja. (lalu disambut beberapa temen gue yang senyum-senyum).

Haissshh.. makasih loh, Bapak udah sukses ngerusak mood saya.


Sincerely,

gue yang langsung sensitif.

Makan Siang

Udah lama nggak posting, tiba-tiba ngepost tentang makan siang. Hihi. Padahal itu utang posting ke Belitong aja gak dilanjut-lanjut. Gileeee males banget mulainya. Hahahaha.

Terus kenapa dengan makan siang?

Sejak sebelum pindah ke kantor Bandung, gue selalu bertanya dimana para kolega gue ini makan siang? Secara kantornya kecil banget dan nggak ada kantin. Iya, NGGAK ADA KANTIN. Waktu awal-awal pindah, gue sering diajak makan siang bareng temen yang sepantaran. Oooh ternyata di sekitar kantor ini ada beberapa penjual makanan. Lumayan lah, ada yang walking distance ada juga yang naik angkot dikit. Ternyata juga, OB kantor ini istrinya jualan makanan. Jadi pas jam istirahat dia buka lapak di pantry, masakannya lumayan lah berasa. Cuma kalo yang pedes suka pedes banget. Tetep aja lumayan kalo males keluar kantor.

Sejak gue sakit, gue selalu bekal makan siang. Emak gue semangat banget dan girang kalo anak-anaknya mau bekal makan siang. Gue juga seneng-seneng aja karena langsung makan ga perlu beli ke bawah dulu. Pun sekarang istri OB itu udah gak jualan lagi, gak tahu kenapa. Makin hepi lah gue ga repot cari makan siang. Tapi gegara ini juga gue jadi jarang gabung sama temen-temen gue. :(

Lalu hari ini gue nggak bekal makan siang, tadinya mau makan bareng temen gue tapi dia belum terlalu laper sementara gue udah laper berat. Akhirnya diputuskan gue makan duluan. Jalan keluar kantor, udah nggak sanggup kalo yang jauh-jauh. Pun menunya kurang bikin tertarik. Yang paling dekat cuma mie ayam, akhirnya nyoba beli di situ minta dianter ke meja gue di lantai 2. Mie ayam khas Bandung yang full of saos gak sehat. Berhubung laper berat ya tandas juga. Aaah, jadi kangen mie ayam Jakarta. :(


Monday, June 2, 2014

Happy Busy Week

Sabtu, 24 Mei
  • Pagi-pagi suami dateng.
  • Sore-sore ke Bakso Cihampelas.

Minggu, 25 Mei
  • Bubur Palaguna
  • Dago Dar Free Day
  • Bandung Book Center Palasari
  • Warung Lotek Macan
  • Trans Studio Mall

Senin, 26 Mei
  • Istri kerja, suami cuti leyeh-leyeh di rumah
  • Pulang kerja dijemput suami terus ke Galeri Indosat Dukomsel
  • Bandung Elektronik Center, beli power bank sekalian makan di food courtnya

Selasa, 27 Mei
  • Ngiterin PVJ
  • Nonton Godzila
  • Ngemil ngopi unyu di First Love Cake

Rabu, 28 Mei
  • Istri kerja, suami cuti leyeh-leyeh di rumah
  • Pulang kerja ke Ciwalk sama Suami dan Adek
  • Nonton film Marmut Merah Jambu 

Kamis, 29 Mei
  • Pagi buta sepupu dateng dari Purbalingga
  • Siangnya ke PVJ (lagi) sama Suami, Ibu, Adek, dan Sepupu
  • nonton The Amazing Spiderman 2
  • makan di Pepper Lunch
  • ngemil unyu di A&W

Jumat, 30 Mei
  • Istri kerja, suami cuti leyeh-leyeh di rumah
  • Pulang kerja langsung pulang ke rumah

Sabtu, 31 Mei
  • Warung Lotek Macan
  • Main seharian ke Trans Studio Bandung sama Suami, Adek, dan Sepupu.
  • Ngemil sop durian monthong di Straits Kitchen, TSM
  • Belanja perintilan di Hero TSM
  • Kaki badan super pegel, capeeeek banget

Minggu, 1 Juni
  • Nganter suami ke Cititrans Pasteur
  • Suami berangkat lagi ke Palu
  • Nyusul Adek dan Sepupu ke Museum Geologi
  • Makan di Bebek Garang Sulanjana
  • Brownies Amanda Paskal Hyper Square
  • Creambath + pijat refleksi di Anata Pasir Kaliki

Fyuuuhh.. Kira-kira begitulah kegiatan gue kalo Suami lagi pulang. Seperti biasa, full of hedonisme a la kita : jalan-jalan, belanja, makan, nonton.  Kota Palu kurang hiburan jadi alasan untuk nguras tabungan. Belum lagi ada pengeluaran-pengeluaran tak terduga. Tabungan bukannya makin nambah malah makin menipisss.. Hahahahayasudahlaaah, yang penting hepi aja lah. Nyahaha!

Kalo Suami pulang terus jalan-jalan terus gitu sebenernya bikin waktu bersama suami jadi cepet banget terlewati, tiba-tiba dia udah berangkat lagi aja. Gak kerasaaaa... Terus capek banget juga jalan-jalan terus, badan kaki pegel rontok semua. Creambath + pijat refleksi di Anata pas banget untuk menutup weekend yang super sibuk tapi hepi. Alhamdulillaah..

See you soon, Suami!

Instagram @tiariph