Saturday, December 1, 2012

Upacara Panggih

Setelah akad nikah dilaksanakan, dilanjutkan dengan Upacara Adat Panggih. Kali ini saya mau share dikit tentang upacara adat Panggih berikut maknanya yang saya ambil dari sini.

Penyerahan Pisangsanggan
Para pembawa kembar mayang
bersiap Panggih, menunggu mempelai pria

Upacara panggih lengkapnya disebut upacara adat widhi widana panggih, yaitu suatu tata cara mulia yang diturunkan oleh Tuhan untuk membuat hati hambaNya tenteram. (Widhi=Tuhan; widana=pemberian yang bersifat mulia). Kata panggih itu sendiri merupakan akronim dari 'pangudi gambuhing penggalih' artinya yang membuat hati tenteram. Upacara ini fungsinya sama dengan akad-nikah dalam agama Islam, yaitu mempersaksikan kehendak berumah tangga di hadapan manusia dan Tuhan. Setiap agama ataupun suku bangsa punya tata cara sendiri yang satu sama lain berbeda tetapi tujuannya sama, yaitu untuk urusan perkawinan manusia harus melalui proses upacara ritual tertentu lebih dahulu. Mungkin pada zaman dahulu kala Tuhan mengajarkan upacara panggih itu kepada suku Jawa sebagaimana Dia mengajarkan akad-nikah kepada bangsa Arab. Katanya sih, upacara panggih itu warisan budaya kuno Jawa.

mempelai pria datang
Balangan Gantal
Balangan Gantal
Setelah berhadap-hadapan dengan jarak beberapa langkah mereka saling melempar gantal. Gantal adalah daun sirih yang digulung diikat dengan benang. Ada pula yang tidak dilempar tetapi ditukar kemudian diremas lalu dijatuhkan di situ. Kedua mempelai membulatkan tekadnya untuk membangun mahligai rumah tangga bagaikan membulatkan gulungan daun sirih. Daun sirih itu atas bawahnya pasti terlihat beda, tetapi kalau digigit rasanya di lidah sama saja. Itulah pengandaian kedua mempelai, mereka beda jenis kelamin tetapi tekadnya membangun mahligai rumah tangga sudah sama. Niat yang sama itu menjadikan mereka terikat janji luhur untuk hidup bersama, mereka mengikat janji dengan ikatan benang pada gulungan daun sirih.


kiri : mecah wiji dadi - kanan : wijik suku
Mecah Wiji Dadi
Di hadapan kedua mempelai kemudian diletakkan telor ayam dan air, mempelai pria menginjak telor tadi dengan kaki kanan sampai telornya pecah mengotori kakinya. Sambil menginjak itu mempelai pria membulatkan niatnya untuk 'ngayani, ngayemi, ngayomi' (=mencukupi, membahagiakan dan melidungi) pasangannya sebab sadar bahwa tindakannya mengawini pasangannya adalah merusak status keperawanannya yang tidak mungkin pulih kembali lagi bagaikan pecahnya telor, karena itu bertekad: berani merusak tentu harus berani membangun dengan 'ngayani, ngayemi, ngayomi'.
Wijik Suku
 Mempelai putri kemudian berjongkok membasuh kaki yang kotor tadi dengan air yang disediakan kemudian melapnya sampai kering, saat itu dia menyadarkan dirinya akan tugasnya, yaitu berbakti pada suami, berbakti itu terkadang berat, boleh jadi suatu ketika hal menjijikkan macam membasuh kaki kotor akan dijalani.


Lantingan
Lantingan
Setelah kakinya bersih mempelai pria memakai lagi selopnya, lalu membimbing mempelai wanita berdiri sejajar di samping kirinya, ini disebut 'lantingan'. Saat itu mempelai pria menyadarkan dirinya bahwa harkat, martabat dan derajat pasangannya itu sejajar, setara dengan dirinya. Istilah sekarang disebut 'kesetaraan gender'.


Sindur Binayung
Sindur Binayung
Sang ibu mempelai putri me'nyingeb'kan selendang sindur ke punggung kedua mempelai, singeb artinya selimut, kedua ujungnya dipegang oleh sang ayah yang kemudian 'menyeret' membimbingnya menuju kursi pelaminan, sedang sang ibu meletakkan kedua tangannya di punggung kedua mempelai seperti mendorong.
Sindur artinya anugerah air kehidupan, yaitu kehidupan dalam hubungan suami istri. Setelah selesai upacara, hubungan itu sudah 'halal' bagi kedua mempelai. Hubungan itulah yang akan selalu mempersatukan mereka karena mereka terselimuti pengaruh hubungan itu. Tanpa hal itu rumah tangga bisa goyah atau bahkan hancur. Tetapi awas jangan sembarangan menggunakannya, karena itulah diperingatkan dengan warna selendang sindur yang merah di tengahnya, sedang warna putih di tepinya melambangkan air kehidupan itu. Sang ayah 'menyeret' membimbingnya, ini menyadarkan kedua mempelai untuk mengarahkan hak hubungan suami istri itu kepada nilai-nilai luhur (=akhlakul karimah). Sedang sang ibu 'mendorong' punggung mereka sebagai isyarat bahwa orang tua selalu memberi dukungan moral.


Timbangan/Pangkon
Timbangan/Pangkon
Setelah sampai di kursi pelaminan sang ayah duduk, kedua mempelai duduk dipangku di lutut sang ayah. Pada saat itu sang ayah menimbang berat mereka dengan hatinya, sudah sama belum kasih sayangnya terhadap mereka, yang satu anak yang satu menantu, lalu sang ibu bertanya, "awrat pundi Pak?" (=berat mana Pak?). Lalu sang ayah menjawab, "ah, padha wae" (=ah, sama saja). Orang tua tak lagi membedakan antara anak dan menantu, keduanya merupakan anak sendiri.


Wisudan
Tanceban/Tandur/Wisudan
Kemudian mereka berdiri, sang ayah memegang pundak mereka, membimbing mereka duduk berdampingan di kursi pelaminan, kesannya seperti sedang ditancapkan (=tanceban), atau bagaikan tanaman padi yang ditanam (=tandur), atau diwisuda, dari status calon temanten diwisuda menjadi temanten. Dengan isyarat ini orang tua telah menempatkan mereka di tempat yang seharusnya yaitu rumah tangga.


Kacar-kucur
hasil kacar-kucurnya diikat

menyerahkan hasil kacar-kucur ke ibu mempelai wanita
Kacar-kucur
Pengantin pria menuangkan 'tampa kaya' dari lipatan 'klasa bangka' ke pangkuan mempelai putri yang dialasi selembar 'kacu gembaya' untuk membungkusnya. Mempelai putri kemudian menyerahkan bungkusan tersebut kepada ibunya. 'Tampa kaya' biasanya berupa beras kuning disertai biji-bijian dan bumbu dapur seperti kacang, kedelai, bawang merah, bawang putih, cabai, dsb. Artinya pria memberikan nafkah pada istrinya. 'Klasa bangka' adalah tikar pandan kecil, umumnya diganti dengan kain sindur yang dilipat. 'Kacu gembaya' adalah saputangan khusus yang tengahnya berbentuk kantung. Dalam rumah tangga istri bertugas memanage ekonomi rumah tangga, dalam memanage itu mesti ingat orang tuanya, karena itulah mempelai putri menyerahkan bungkusan pada ibunya.


Dulangan
Dulangan
Intinya mempelai pria menyuapi mempelai putri dengan sekepal nasi sebagai ibarat berperan sebagai guru pembimbing dalam rumah tangga. Dalam perkembangannya menjadi dulang-dulangan, kedua mempelai saling menyuapi yang bisa diartikan sebagai saling kompak. Dalam praktek umumnya nasinya adalah nasi kuning yang dibuat tumpeng, bahkan dilengkapi ingkung.


Ngunjuk tirta wening
ini sih mantennya kehausan.. wkwkwk..
ortu mempelai wanita ngunjuk rujak degan
ortu mempelai pria ngunjuk rujak degan
kedua mempelai ngunjuk rujak degan
Ngunjuk Tirta Wening & Rujak Degan
Mempelai saling memberi minum dengan air putih, ada pula pakai rujak degan. Bermakna harapan akan kejernihan hati di dalam berumah tangga sebagaimana jernihnya air putih, atau harapan akan keturunan dengan minum rujak degan.


Pemasangan Cincin Kewong

pameeeerr...
sungkeman ke ortu mempelai wanita
sungkeman ke ortu mempelai pria
Sungkeman
Sebagai penutup upacara adat kedua mempelai sungkem pada orang tua sebagai tanda berbakti.

Naaaah, kira-kira begitulah ringkasan upacara Panggih.. Salah satu kebudayaan yang harus dilestarikan! :)


See you,

Tiari

No comments:

Post a Comment

i'm so glad if you comment this post. But no 'Anonymous' please..
thank's.. :)

Instagram @tiariph